Patah hati

Kenapa, sih Rasa Sakit Patah Hati Berpengaruh ke Tubuh?

patah hati

Breakup happens, whether you want it or not. Ada yang bilang kalau emosi yang lo rasakan saat putus itu seperti naik roller coaster, namun menurut gue enggak. Kalau disamakan dengan menaiki roller coaster, start line dan end line nya itu udah jelas waktu dan tempatnya, lo bahkan bisa menolak untuk nggak naik sama sekali.

Saat lo patah hati atau habis putus, biasanya lo akan menggunakan beberapa kata yang selalu diasosiasikan dengan sakit secara fisik –hurt, pain, ache . Rasa sakit secara emosional dan secara fisik ternyata punya kesamaan – keduanya mengaktifkan area yang sama di dalam otak.

Scan pada otak seseorang yang baru saja putus membuktikan bahwa rasa sakit emosional dan fisik ternyata melalui jalur saraf yang sama. Ada studi yang membuktikan bahwa, dari 40 orang yang baru saja melalui breakup dan dipindai otaknya bersamaan dengan mereka melihat foto wajah dari sang mantan sambil memikirkan masa-masa mereka putus, momen dimana mereka melihat foto tersebut, bagian dari otak yang berhubungan dengan sakit secara fisik menyala.

Riset juga mengemukakan bahwa orang yang minum Tylenol (obat drugstore untuk mengobati sakit secara fisik) selama tiga minggu dilaporkan mengalami rasa sakit secara emosi lebih sedikit pada kesehariannya dari mereka yang hanya meminum plasebo.

Gejala Fisik dari Patah Hati

Otak paling demen lah sama inangnya yang lagi jatuh cinta. Gimana enggak? Saat lo lagi jatuh cinta, badan lo mengeluarkan hormon bahagia seperti dopamine dan oxytocin. Namun, saat seseorang yang lo sayang ninggalin lo, persediaan hormon bahagia turun drastis yang menghasilkan otak lo mengeluarkan stress hormon seperti cortisol dan epinephrine.

Pada dosis kecil, stress hormon sebenarnya baik, itu adalah mekanisme tubuh lo untuk merespon ancaman secara cepat dan efektif. Tetapi, pada masa dimana lo mengalami stress yang berkepanjangan seperti patah hati, stress hormon ini berakumulasi sehingga akan berbahaya. Inilah yang ada di balik gejala-gejala fisik saat lo putus cinta:

  • Terlalu banyak kortisol di otak mengirimkan darah ke kelompok otot utama. Otot tersebut akan menegang, siap untuk merespon ancaman (fight or flight). Namun, karena kenyataannya tubuh lo memang tidak butuh mengeluarkan respon secara fisik, otot nggak memiliki kesempatan untuk mengeluarkan energi tersbut.

    Otot membengkak, menimbulkan sakit kepala, leher kaku dan perasaan tidak enak di dalam dada sedang diremuk.
  • Untuk memastikan otot memiliki suplai darah yang cukup, kortisol mengalihkan darah menjauh dari sistem pencernaan.

    Ini bisa bikin lo ngerasain perut kram, diare, atau hilangngnya nafsu makan.
  • Ketika hormon stres merajalela, sistem kekebalan tubuh lo akan kesusahan, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap serangga dan penyakit.

    Makanya ada istilah ‘break-up cold’ atau demam saat habis putus.
  • Kortisol pada tubuh akan dikeluarkan secara stabil

    Hal ini dapat mengakibatkan masalah pada tidur lo dan mengganggu kemampuan lo dalam mengambil keputusan
  • Breakup mengaktifkan area pada otak lo yang memproses keinginan dan kecanduan.

    Kehilangan hubungan dapat membuat lo mengalami withdrawal symptoms, seperti lo lagi berusaha berhenti dari sesuatu yang adiktif – lo kangen mantan lo, sampe kangen yang beneran kangen, lo gabisa ngelupain dan mengeluarkan dia dari kepala lo. Tapi, layaknya kecanduan pada apapun itu, semuanya bisa terlewati.

Everything Will be Okay

Dalam suatu hubungan, pikiran lo, tubuh lo, dan inti diri lo menyesuaikan diri untuk terhubung secara intim dengan seseorang. Ketika dia pergi, otak harus menyesuaikan diri kembali. Memang rasa sakitnya kadang seperti nggak ada ujungnya, lo capek dan lemah. Tapi, pada akhirnya reaksi kimia pada tubuh lo akan kembali normal dan rasa sakitnya akan berkurang.

Melewati perpisahan adalah proses fisik dan emosional. Inget itu, dan ketahuilah semuanya akan lebih baik. You will be okay, you are strong, you’ll be happy again. Keep going!